Sebuah pelajaran berharga buat para orangtua untuk bisa lebih memproteksi anak gadis belianya agar tidak terjebak dalam pengaruh dan sisi negatif sebuah situs jejaring sosial bernama Facebook. Banyak bahaya mengancam bagi mereka-mereka para remaja belia yang baru mengenal betapa kompleksnya ranah dunia maya.

Diduga karena kenalan lewat Facebook, gadis ABG bernama Marietta Nova Triani asal Surabaya menghilang di Bumi Serpong Damai (BSD). Korban merupakan keponakan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Yosef Umar Hadi, yang tinggal di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.   Continue Reading »

Berkiprah di industri film Hollywood adalah hal yang mungkin bagi anak Indonesia. Hal tersebut pun telah dibuktikan oleh Jane Lawalata, sineas yang berhasil menembus Hollywood lewat film garapannya, ‘Chatterbox’.

‘Chatterbox’, berawal dari sebuah tugas kuliah Jane di New York Film Academy (NYFA) Los Angeles. Tesis yang dibuat Jane pun menarik minat CF2, sebuah rumah produksi diproduksi sebagai feature film. Continue Reading »

Siapa saat ini yang tidak kenal George Junus Aditjondro sekarang ?, sang penulis buku yang menuai kontroversial di akhir tahun 2009. Walau tidak tebal, namun buku “Membongkar Gurita Cikeas” banyak berisi data-data yang sangat sensitif dan tentu saja kontroversial.

Bagaikan melempar bola panas disaat kasus Century jadi sorotan, buku Membongkar Gurita Cikeas sontak mendapatkan beragam reaksi dari berbagai pihak, baik bagi para terdakwa yang tertulis jelas di buku George tersebut, ataupun bagi pihak-pihak yang bereaksi cukup lantang untuk penuntasan kasus Century tersebut. Continue Reading »

Oleh: Yahya C. Staquf

Ini kehilangan tak terperi. Tapi diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua belas tahun yang lalu, ketika suatu hari kamar mandi kantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), di Kramat Raya Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar mandi itu terkunci dari dalam dan Gus Dur ada didalamnya. Orang-orang menggedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya sendiri. Itulah strokenya yang pertama dan paling dahsyat, yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka itu, Gus Dur adalah sosok “pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Tapi ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bangsa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya. Aku tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presiden waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda, wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya. Continue Reading »

Halaman Berikutnya »