Selama beberapa dasawarsa, para ilmuwan diseluruh dunia telah mengumpulkan banyak sekali bukti, bahwa zat pencemar udara yang dihasilkan dalam pembakaran bahan bakar fosil, baik minyak bumi maupun batu bara, serta peleburan logam, dapat mempengaruhi dan menjadi penyebab utama kerusakan hutan, tanah dan ekologi dan disini manusia pun berperan penting dari ekologi tersebut. Kerusakan tanaman keras oleh zat pencemar seperti sulfur dioksid dan ozon sudah menjadi realita yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Beberapa waktu lalu endapan asam – yang lebih dikenal dengan hujan asam – telah timbul sebagai bahaya yang makin mengancam hutan diwilayah-wilayah rawan. Endapan asam menandakan adanya oksida belerang dan nitrogen yang telah mengalami perubahan kimiawi di udara, lalu jatuh ke bumi sebagai asam dalam air hujan, salju, kabut, atau sebagai partikel kering yang membentuk asam.

Sekalipun ancaman baru dari abad industri ini sudah terbukti membunuh biota air dan tumbuhan di ratusan danau di Skandinavia dan Amerika Utara, kaitannya dengan kerusakan ekologi tetap belum begitu jelas. Sekalipun demikian hasil studi tentang pohon-pohon yang sakit atau hampir mati di Eropa dan di Amerika Utara membuat kaitan ini tak mungkin diabaikan. Hal ini tentunya masih erat kaitannya dengan penggunaan bahan bakar fosil, meskipun pada sekitar tahun 1970 an, Negara-negara di dunia mulai ramai mengeluarkan peraturan yang mengharuskan penggunaan bahan bakar fosil yang rendah emisi sulfur dioksidnya, namun ini ternyata tidak banyak menolong mengingat penggunaan secara kuantitas terhadap bahan bakar fosil jenis ini masih rendah khususnya di Negara-negara berkembang.

Hal ini lah yang kemudian mendorong negara-negara maju untuk berusaha menemukan energi alternatif sebagai pengganti dari bahan bakar fosil. Di beberapa negara eropa proyek-proyek ini dianggap cukup berhasil meski melalui pengorbanan yang amat besar baik dari segi tenaga maupun biaya untuk melakukan berbagai riset, namun pemikiran kedepan lah yang mendorong mereka untuk tetap berusaha menciptakan suatu lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat. Tetapi ini tidaklah mudah, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita tinggal didalam satu planet yang sama yang disebut bumi, jadi perbuatan oleh sebagian kecil negara diplanet bumi ini tidakakan berarti apa-apa bila tidak didukung oleh negara-negara lain di bumi ini.

Apa yang sudah dilakukan Indonesia?

Tentunya kita masih ingat pada beberapa waktu yang lalu pemerintah Indonesia mewacanakan penggunaan energi alternatif yaitu dengan melakukan penanaman massal tanaman jarak yang dianggap bisa menggantikan penggunaan BBM pada kendaraan bermotor. Bahkan dalam menunjang program pemerintah ini, telah diadakan ceremonial-ceremonial berskala besar untuk meresmikan proyek penanaman dan industri bahan bakar alternatif. Tapi sungguh sangat disayangkan, proyek-proyek yang dibuka secara resmi dengan biaya yang sangat besar ini tidak ada tindak lanjutnya. Proyek yang telah lama ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia untuk mendapatkan Bahan Bakar yang murah, ramah lingkungan dan tidak terpengaruh harga minyak mentah dunia hanya tinggal angan-angan.

Hal ini pun juga pernah terjadi sebelumnya. Tenaga angin, tenaga surya, biogas dan bio diesel adalah sedikit contoh bahan bakar alternatif ramah lingkungan yang digadang-gadangkan bisa menjadi pengganti bahan bakar fosil yang sudah langka dan membawa dampak buruk bagi lingkungan. Umumnya riset mengenai ini tidak diikuti oleh pengembangan lebih lanjut termasuk bagaimana menjadikan hasil riset ini sebagai suatu komoditi yang memiliki nilai jual serta dapat diproduksi secara massal. Beberapa alasan yang dilontarkan oleh pihak pemerintah atas kegagalan proyek pengadaan bahan bakar alternatif ini diantaranya ialah biaya produksi yang lebih besar dari nilai jual, dan juga kualitas bahan bakar alternatif yang dianggap dibawah standar. Kedua hal inilah mengapa tetap saja bangsa Indonesia tidak dapat beralih dari ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya semakin melangit dan membawa dampak buruk bagi lingkungan.

Apa solusinya?

Belum lama ini ada sebuah wacana baru yang sempat memberikan harapan baru bagi masyarakat, yaitu ketika ramainya diberitakan tentang penemuan energi baru yang memanfaatkan air, namun akhirnya itu malah menjadikan sebuah kontroversi yang melibatkan salah satu institusi pendidikan di Yogyakarta, karena diperkirakan oleh para ahli, penemuan tersebut tidak bisa dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Penemuan tersebut telah sampai ke presiden bahkan presiden memberikan nama energi baru tersebut dengan nama Blue Energy, blue energy sendiri menurut versi luar negeri adalah tenaga yang dihasilkan dari perbedaan konsentrasi air laut dan air tawar dengan menggunakan reverse electro dialysis (RED). Limbah dari proses ini adalah brackish water.

Terlepas dari penemuan yang menimbulkan kontroversi seperti diatas, sebenarnya penggunaan bahan bakar alternatif di Indonesia bukanlah hal asing lagi. Banyak rakyat Indonesia yang didasarkan pengalaman dan pengetahuannya telah mencoba menemukan bahan bakar alternatif. Sudah berapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan oleh para ahli di kalangan akademisi di Indonesia dan tentunya juga telah diuji cobakan oleh para pakar yang berkompeten dibidangnya. Namun pertanyaan yang muncul ialah mengapa hasil riset ini tidak didaya gunakan dan tetap saja menggunakan bahan bakar fosil yang dianggap banyak membawa efek negatif bagi lingkungan ?

Satu alasan yang dapat diambil adalah bahwa bahan bakar alternatif tidak bersifat komersil, proyek yang lahir dari penemuan bahan bakar alternaif ini lebih cenderung merupakan proyek sosial/kemasyarakatan dan bukan ditujukan untuk bagaimana cara memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Apabila dibuat suatu perbandingan, maka untuk komoditi bahan bakar alternatif ini bisa dipastikan konsumen/penggunanya adalah masyarakat lokal, untuk mengekspornya tidak banyak Negara lain yang berminat terhadap bahan bakar alternatif. Ini berbeda halnya bila dilakukan eksplorasi maupun eksploitasi terhadap suatu ladang minyak baru, dimana para investor akan berebut untuk membelinya, dan ini akan neningkatkan pendapatan Negara dibidang ekspor. Tidak banyak keuntungan yang diharapkan dari adanya pengembangan energi alternatif, dan hal ini tentunya berkaitan dengan pendapatan Negara di sektor Migas.

Untuk pengembangan energi alternatif di Indonesia, alasan ini sebenarnya tidak perlu ditakutkan. Walaupun pada masa-masa awal pengembangannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar, maka jumlah penduduk yang besar ini lah yang justru menjadi pangsa pasar yang bagus untuk menawarkan suatu energi alternatif yang lebih murah dan bersahabat bagi lingkungan. Kepentingan bangsa Indonesia ada diatas segala-galanya, sehingga pengembangan energi alternatif sungguh merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa Indonesia sendiri. Investasi ini tentunya bukanlah berwujud materi, namun terciptanya suatu lingkungan hidup yang nyaman dan sehat, dan tidak ada salahnya bagi pemerintah pada tahap awal menyampingkan kepentingan ekonomi negara demi kemajuan bangsa. Ini jelas membutuhkan keberanian dari pemerintah kita saat ini, tentunya untuk kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.


  1. apa kabar Maz Poetz??

    Saya Danan, 29 Th,
    saya seorang pengusaha muda (UKM)
    Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.

    modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.

    saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai sedikit demi sedikit meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.

    cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
    Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
    yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi

    Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat

    untuk informasi jelas bisa diperoleh dari
    http://www.santosorising.com

    Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan

    Terimakasih

    Danan Eko Cahyono, ST




Leave a Comment