Lagu grup band Slank Gosip Jalanan kembali terbukti. Lagu yang pernah dipersoalkan Badan Kehormatan DPR karena dianggap menghina wakil rakyat itu, kali ini kembali menyadarkan rakyat akan moralitas para wakil rakyat di Senayan.

Belum hilang akan ingatan kita dengan penangkapan Al- Amin Nasution, anggota DPR dari PPP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima uang suap, kini giliran Bulyan Royan, anggota DPR dari Partai Bintang Reformasi. Ini menambah deretan rapor merah moralitas para wakil rakyat. Bulyan tertangkap tangan menerima suap senilai Rp 700 juta untuk pengadaan kapal patroli di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan.

Hal ini semakin menurunkan tingkat kepercayaan rakyat terhadap anggota dewan. Bukankah mereka adalah orang-orang pilihan? Idealnya, karena mereka tangguh, dapat dipercaya, bermoralitas, dan berani berkorban untuk rakyat, akhirnya terpilih menjadi anggota DPR.

Ada apa dengan para wakil rakyat kita? Bukankah seharusnya mereka menjadi tauladan bagi rakyat yang notabene diwakilinya. Menjadi teman senasib sepenanggungan ketika rakyatnya dihimpit beban ekonomi yang tiada muaranya. Seharusnya mereka memberi contoh, bagaimana hidup survive tetapi tetap memiliki harga diri ditengah-tengah kesulitan. Bukan malah memberi pelajaran untuk melakukan pencurian.

Lantas, jika moralitas para wakil rakyat sudah menurunkan derajat dan martabat, kepada siapa lagi rakyat berpanutan?

Fenomena suap dikalangan wakil rakyat seharusnya menyadarkan partai politik dan rakyat sebagai pemilih. Dalam hal ini parpol harus lebih selektif dalam meilih kadernya yang akan dijagokan menjadi legislatif. Tentunya bukan kader berduit tebal yang diprioritaskan, tetapi sudah saatnya parpol memilih kader dengan integritas moral tinggi, jika moralitas diabaikan, pada waktunya parpol akan menuai ketidak percayaan dari rakyat pendukungnya.

Pemilu 2009 sudah semakin mendekati. Saatnya rakyat indonesia mulai berpikir untuk menentukan siapa yang akan jadi wakilnya di DPR, jangan lagi hanya tergiur iming-iming uang atau janji-janji kampanye yang hanya sekedar Lips Service, saatnya kita menjadi pemilih yang cerdas, kritis dan berwawasan masa depan. Bagaimanapun ranah demokrasi mentakdirkan, rakyatlah sang penentu masa depan suatu bangsa.

Kepada KPK dan jajaran penegak hukum lainnya, teruskan perjuangan menyelamatkan harkat dan martabat bangsa, jangan pernah terburu-buru untuk bangga, karena masih banyak tikus-tikus kantor yag belum tertangkap.


Leave a Comment